BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banjir dan masalah lingkungan yang terus melanda Kota
Semarang tidak dapat dilepaskan dari pertambahan penduduk yang terus
berlangsung sepanjang tahun. Secara umum yang dapat dicatat BPS Kota Semarang
(tahun 2003- 2007) adalah, bahwa selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan
tahun 2006, penduduk yang datang di Kota Semarang berturut-turut adalah 34.270
orang pada tahun 2002, selanjutnya 37.063 orang (tahun 2003), 35.105 orang
(tahun 2004), 30.910 orang (tahun 2005), dan 42.714 orang pada tahun 2006.
Sedangkan 5 kecamatan yang tergolong padat, juga kedatangan penduduk yang cukup
banyak pada tahun 2006. Lima kecamatan itu adalah Banyumanik yang kedatangan
4.128 orang, Kecamatan Tembalang 4.136 orang, Kecamatan Pedurungan 6.209 orang,
Kecamatan Semarang Barat 4.002 orang dan Kecamatan Ngaliyan 4.059 (Wawasan,
13/01/09).
Salah satu penyebab dari peningkatan jumlah penduduk yang
ada di semarang yaitu karena semarang terdapat universitas-universitas yang
cukup ternama sehingga menjadi bidikan calon mahasiswa baru di seluruh penjuru
Indonesia, misalnya Universitas Negeri semarang ataupun IAIN Semarang dan IKIP
PGRI Semarang. Sehingga banyak para pendatang yang memadati Semarang.
Karakteristik geografi, Kota Semarang memiliki daerah-daerah
potensi banjir, karena adanya perbedaan tinggi dataran antara wilayah utara dan
ilayah selatan. Kondisi ini terjadi karena adanya banjir kiriman dari wilayah
selatan Kota Semarang dan kabupaten Semarang.
Adanya perubahan pemanfaatan lahan dari hutan karet menjadi
perumahan di wilayah kecamatan Mijen memperbesar kerusakan di daerah tersebut.
Akibatnya jumlah air hujan yang mengalir ke wilayah Ngaliyan menjadi bertambah
dan membuat daerah tersebut terkena musibah banjir; padahal sebelumnya di daerah
tersebut belum pernah terkena banjir. Selain penggundulan hutan, perubahan
fungsi lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Semarang dari areal pertanian
menjadi areal perumahan baru. Penyebab lain, banyak sungai yang berhulu di
daerah Kabupaten Semarang melewati Kota Semarang.
Permasalahan non-teknis yaitu perilaku masyarakat kota
Semarang yang buruk. Perilaku membuang sampah di saluran dan di sembarang
tempat. Rendahnya kesadaran masyarakat koa ditunjukkan sewaktu banjir di
beberapa jalan protokol kota Semarang diakibatkan adanya saluran yang
tersumbat, namun masyarakat tidak segera mengatasinya melainkan menunggu
petugas dari pemerintah Kota Semarang untuk mengatasi permasalahan pada saluran
tersebut.
Namun, dari hal diatas, bukan berarti tidak ada penyelesaian
bagi masalah banjir di wilayah Semarang. Peran pemerintah, lembaga-lembaga
kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan guna tercapainya
penyelesaian dari masalah banjir yang selama ini selalu menghantui warga
Semarang.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian atau definisi banjir dan proses terjadinya?
2.
Apakah
penyebab bencana banjir selalu menggenangi wilayah Semarang?
3.
Bagaimanakahdampakdan
solusi mengatasi banjir yang selalu menggenangi semarang?
4.
Bagaimanakah
metode yang digunakan dalam penegndalian banjir pada umumnya?
5.
Bagaimanakah
langkah-langkah dalam mitigasi banjir?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui penyebab dari banjir yang sering melanda wilayah Semarang.
2.
Untuk
mengetahui dampak dan solusi-solusi untuk mengatasi banjir di wilayah Semarang.
3.
Untuk
mengetahui metode yang digunakan dalam pengendalian banjir.
4.
Untuk
mengetahui langkah-langkah dalam mitigasi banjir.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Proses Terjadinya
Banjir Secara Umum
1.
Menurut
Departemen Kimpraswil (2001)
Banjir adalah suatu keadaan sungai, dimana aliran air tidak
tertampung oleh palung sungai, sehingga terjadi limpasan, dan atau genangan
pada lahan yang semestinya kering.
2.
Wikipedia,
2009.
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya
kering) karena volume air yang meningkat
3.
Himpunan
Ahli Tehnik (1984)
Banjir
adalah peristiwa terjadinya genangan pada daerah yang biasanya kering.
Banjir merupakan kejadian hidrologis yang dicirikan dengan
debit dan/atau muka air yang tinggi sehingga dapat menyebabkan penggenangan pada
lahan disekitar sungai, danau, atau system air lainnya.
Air hujan yang jatuh kebumi, tidak seluruhnya terserap
kedalam tanah dan tertahan oleh vegetasi yang ada, namun ada sebagian yang
jatuh langsung ke laut, namun sebagian harus mengalami perjalanan dahulu
melalui DAS atau daerah aliran sungai, nantinya air tersebut akan bermuara ke
laut ataupun ke sungai-sungai yang lebih rendah. Dalam perjalanannya itu, air
yang mengaliri DAS membawa materi-materi hasil erosi sehingga makin lama DAS di
daerah dataran rendah makin lama makin dangkal dan akhirnya bisa menghilang
akibat tersedimentasi oleh materi-materi yang dibawa air dari dataran yang
lebih tinggi tadi. Hal itu wajar adanya dan merupakan proses alam, namun
terkadang proses alam tersebut berjalan sangat cepat karena campur tangan
manusia sehingga menyebabkan ketidakseimbangan alam, contohnya jika didataran
tinggi terutama, dilakukan penggundulan hutan,maka air hujan yang jatuh kebumi,
akan sedikit sekali yang tertahan di dataran tinggi, sehingga menyebabkan air
yang mengalir kedataran rendah menjadi bertambah, akibatnya, kapasitas sungai
dan DAS tidak mencukupi sehingga terjadilah peluberan aliran air yang disebut
banjir. Ditambah apabila terdapat penghalang pada DAS yang akan memperlambat
aliran air, misalnya batu besar, batang pohon, maupun sampah.
B. Penyebab Banjir di Wilayah Semarang
Banjir di dataran alluvial sungai dan alluvial
pantai Semarang dapat dikelompokkan menjadi tiga macam banjir, antara lain :
1.
Banjir
kiriman, yang terjadi secara periodik setiap tahun dan melanda daerah sekitar
pertemuan Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Garang sampai di Kampung Bendungan
disebabkan oleh:
a. Peningkatan debit air sungai yang
mengalir dari DAS Garang (luasnya 204 km2), DAS Kreo (luasnya 70 km2), dan DAS
Kripik (luasnya 34 km2). Peningkatan debit ini disebabkan oleh: intensitas
hujan yang besar, atau intensitas hujan yang sama namun jatuh pada wilayah yang
telah berubah atau telah mengalami konversi penggunaan lahan. Misalnya yang
awalnya hutan atau lahan yang memiliki vegetasi banyak, namun diubah menjadi
perumahan atau bangunan-bangunan lainnya
b. Berkurangnya kapasitas pengaliran
atau daya tampung saluran atau sungai tersebut, sehingga air meluap menggenangi
daerah di sekitarnya.
c. Banjir kiriman ini diperparah oleh kiriman
air dari daerah atas yang semakin besar, sebagai konsekuensi bertambah luasnya
daerah terbangun yang merubah koefisien alirannya.
2.
Banjir
lokal yang lebih bersifat setempat, sesuai dengan atau seluas kawasan yang
tertumpah air hujan, terjadi disebabkan oleh:
a. Tingginya intensitas hujan.
b. Belum tersedianya sarana drainase
yang memadai.
c. Penggunaan saluran yang masih untuk
berbagai tujuan (multipurpose) baik untuk penyaluran air hujan, limbah,
dan sampah rumah tangga, padahal belum bisa diimbangi oleh air penggelontoran
yang dialirkan.
d. Banjir lokal ini diperparah oleh
fasilitas bangunan bawah tanah (pipa PAM, kabel Telkom, dan PLN) yang
kedudukannya sangat mengganggu drainase.
3.
Sedangkan
banjir rob yang melanda daerah-daerah di pinggiran laut atau pantai disebabkan
oleh:
a. Permukaan tanah yang lebih rendah
daripada muka pasang air laut.
Setiap tahunnya wilayah semarang
mengalami penurunan ± 2-3 cm pertahunnya, hal ini karena sebagian wilayah
semarang khususnya semarang bawah merupakan wilayah hasil reklamasi atau
penggurukan, sehingga kepadatannya tidak sekuat tanah yang terbentuk secara
alami, selain itu, pembangunan gedung-gedung yang berbobot berton-ton juga
menyebabkan wilayah semarang bawah semakin tertekan kebawah.
b. Bertambah tingginya pasang air laut.
adanya pemanasan global atau global
warming, menyebabkan es dikutub utara maupun selatan mencair, akibatnya volume
airpun bertambah dan menyebabkan laut mengalami penambahan atau peninggian muka
air laut, tidak terkecuali semarang.
c. Sedimentasi
Sedimentasi dari daerah atas (burit) di muara sungai (Kali
Semarang, Banjir Kanal Barat, Kali Silandak, Kali Banger, Silandak Flood Way,
Baru Flood Way, dan kali Asin) maupun sedimentasi air laut khususnya oleh
pasang surut (rob), di samping oleh pengaruh gelombang dan arus sejajar pantai,
sehingga terjadi pendangkalan muara yang berakibat mengurangi kapasitas
penyaluran dan akibat selanjutnya menambah parah banjir di sekitarnya.
C. Dampak Banjir
Banjir yang besar memiliki dampak-dampak yang tidak
diinginkan antara lain dampak fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan.
1.
Dampak
fisik adalah kerusakan pada sarana-sarana umum, kantor-kantor pelayanan publik
yang disebabkan oleh banjir.
2.
Dampak
sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental, menurunnya
perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak dapat pergi ke
sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan publik, kekurangan makanan,
energi, air , dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
3.
Dampak
ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi (orang tidak
dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas terhambat,
dan lain-lain).
4.
Dampak
lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang dibawa oleh
banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat terbawa banjir.
Dampak banjir terhadap masyarakat tidak hanya berupa
kerugian harta benda dan bangunan. Selain itu, banjir juga mempengaruhi
perekonomian masyarakat dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan, terutama
kesehatan dan pendidikan (Arduino dkk, 2007).
Menurut Bakornas PB (2007), dampak bencana banjir akan
terjadi pada beberapa aspek (sebagian besar di wilayah Indonesia bagian barat)
dengan tingkat kerusakan berat pada aspek-aspek berikut:
1.
Aspek
penduduk
antara lain berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam,
luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk
terisolasi.
2.
Aspek
pemerintahan
antara lain berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip,
peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan.
3.
Aspek
ekonomi
antara lain berupa hilangnya mata pencaharian, tidak
berfungsinya pasar tradisional, kerusakan dan hilangnya harta benda, ternak dan
terganggunya perekonomian masyarakat.
4.
Aspek
sarana-prasarana
antara lain berupa kerusakan rumah penduduk, jembatan,
jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum,
instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi.
5.
Aspek
lingkungan
antara lain berupa kerusakan ekosistem, objek wisata,
persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan
irigasi.
Yang terpenting dalam keadaan banjir adalah bahaya timbulnya
penyakit akibat banjir yang mengancam masyarakat dari semua golongan. Hal ini
dikarenakan banyaknya sampah yang terhanyut terbawa air banjir, air got yang
bersatu dengan air banjir yang menimbulkan bau yang tidak sedap ataupun septik
tank yang luber dan isinya terbawa air kemana-mana, Akibatnya lingkungan kita
menjadi sangat kotor, sehingga mempermudah timbulnya penyakit pasca banjir:
diare, DBD, leptospirosis, ISPA, cacingan dan berbagai penyakit penyerta lain.
Bahkan tidak jarang juga menimbulkan kasus penyakit yang luar biasa (outbreak).
Banjir juga menimbulkan dampak menurunnya kondisi tubuh & daya tahan terhadap
stress (Wijaya. 2008).
Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh bahwa
Soegijanto S (2008) tentang penyakit pasca bencana yang sering ditemukan:
a.
Polusi
udara berdampak sakit batuk sesak.
b.
Makanan
dan minuman yang terkontaminasi menyebabkan diare akut.
c.
Tikus-tikus
baik yang mati atau hidup akibat bencana banjir berpotensi menularkan kuman pes
dan leptospira.
d.
Air
kemih tikus perlu dicermati penyakit leptospira.
e.
Peningkatan
populasi nyamuk Aedes aegypti maupun Albocpitus yang menularkan virus dengue
maupun Chikungunya.
f.
Dampak
trauma kepala dan patah tulang, dibutuhkan kerjasama dengan dokter ahli bedah
umum maupun bedah tulang.
D. Solusi Mengatasi Banjir di Wilayah
Semarang
Menurut Yusuf Y (2005), langkah-langkah untuk menangani
banjir dibagi menjadi tiga, yaitu: langkah-langkah untuk menangani banjir
lokal, banjir genangan, dan banjir rob.
1.
Untuk
menangani banjir lokal perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: di
Semarang Barat perlu dibangun saluran sabuk, di daerah hilir perlu normalisasi
banjir kanal barat dan banjir kanal silandak untuk mengembalikan kepada
kapasitas rancangan, di daerah hulu (lahan burit) perlu diatur dengan PERDA
tentang kawasan dapat terbangun, kawasan konservasi, dan pembuatan sumur resapan
sehingga fungsi daerah atas sebagai daerah resapan terjamin.
2.
Untuk
menangani banjir genangan perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut:
saluran drainase yang ada sebaiknya digunakan untuk mengalirkan air hujan saja
(single purpose) dan perlu dibangun saluran tersendiri untuk limbah dan
keperluan lainnya, normalisasi dan pemeliharaan saluran-saluran drainase yang
ada, perbaikan inlet yang sesuai dengan kapasitas debit yang harus dialirkan,
penyusunan PERDA tentang bangunan bawah tanah untuk infrastruktur PLN, PDAM,
TELKOM, atau instansi lainnya dan pengaturan luas lahan terbangun, penyuluhan
terhadap masyarakat.
3.
Untuk
menangani banjir rob perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: pembangunan
drainase nongravitasi di Kali Asin, Baru, dan Banger, pembuatan PERDA
pengembangan wilayah pantai (termasuk reklamasi) tanpa bangunan atau
gedung-gedung dan izin peil bangunan yang dikaitkan dengan IMB, serta
penertiban dan memperketat perizinan air bawah tanah.
Selain yang disebutkan diatas, hal yang paling utama yaitu
memperhatikan system drainase yang baik.
Sistem drainase merupakan suatu sistem untuk mengalirkan
atau membuang air hujan yang jatuh di suatu daerah agar tidak terjadi genangan
atau banjir (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).
Pada prinsipnya ada dua macam drainase, yakni drainase untuk
daerah perkotaan dan drainase untuk daerah pertanian. Pada perencanaan dan
pengembangan sistem drainase kota perlu kombinasi antara pengembangan
perkotaan, daerah rural, dan daerah aliran sungai atau DAS (Kodoatie RJ,
Sjarief R, 2005).
Drainase memiliki berbagai fungsi, antara lain: membebaskan
suatu wilayah (terutama yang padat pemukiman) dari genangan air atau banjir,
memperkecil risiko kesehatan lingkungan, yakni bebas dari malaria (nyamuk) dan
penyakit lainnya, sebagai pembuangan air rumah tangga (Kodoatie RJ, Sjarief R,
2005).
Ukuran dan kapasitas saluran sistem drainase semakin ke
hilir semakin besar, karena semakin luas daerah alirannya.
Adapun berbagai kendala di dalam pemeliharaan sistem drainase
di wilayah kota dengan permukiman yang padat: kurangnya lahan untuk
pengembangan sistem drainase karena sudah berfungsi untuk tata guna lahan
tertentu, sulitnya memelihara saluran karena bagian atas sudah ditutup oleh
bangunan, banyaknya sampah domestik yang menumpuk di saluran sehingga
mengurangi kapasitas dan menyumbat saluran. Pemahaman masyarakat bahwa sungai
(drainase) sebagai tempat buangan sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
Terbatasnya dana untuk pemeliharaan saluran. Sistem drainase seringkali tidak
berfungsi optimal karena pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak terpadu
dan tidak melihat keberadaan sistem drainase seperti jalan, kabel TELKOM, pipa
PDAM. Secara estetika, drainase bukan merupakan infrastruktur yang bisa dilihat
keindahannya karena fungsinya sebagai tempat pembuangan air dari semua sumber.
Umumnya drainase di perkotaan kumuh dan berbau tidak sedap. (Kodoatie RJ,
Sjarief R, 2005).
E. Metode Pengendalian Banjir
Menurut Kodoatie RJ dan Sjarief R (2005) beberapa metode pengendalian
banjir antara lain:
1.
Metode-Non-Struktur
Yang termasuk metode ini antara lain: pengelolaan daerah
aliran sungai (DAS), pengaturan tata guna lahan, law enforcement, pengendalian
erosi di DAS, pengaturan dan pengembangan daerah banjir.
2.
Metode-Struktur
: Bangunan Pengendali Banjir
Yang termasuk metode ini antara lain: bendungan (dam), kolam
retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen), bangunan pengurang kemiringan
sungai, groundsill, retarding basin, pembuatan polder.
3.
Metode
Struktur: Perbaikan dan Pengaturan Sistem Sungai
Yang termasuk metode ini antara lain: sistem jaringan
sungai, pelebaran atau pengerukan sungai (normalisasi), perlindungan tanggul,
tanggul banjir, sudetan (by pass), floodway.
F. Langkah-langkah dalam Mengatasi
Banjir
Menurut Depkes RI (2002), masyarakat perlu juga bersikap dan
bertindak untuk mengantisipasi datangnya banjir. Misalnya dengan melakukan
hal-hal berikut ini.
1.
Menjauhi
daerah rawan banjir dalam membuka permukiman.
2.
Bagi
yang sudah telanjur bermukim di daerah banjir, sebaiknya meninggikan lantai
rumah hingga di atas permukaan air banjir.
3.
Mengembangkan
sistem peringatan dini terhadap banjir di lingkungan masing-masing. Misalnya
dengan sirene.
4.
Mengetahui
ke mana harus mengungsi dan meminta pertolongan kesehatan bila datang banjir.
5.
Mengetahui
dan menyiapkan dengan cepat apa yang terpenting untuk dibawa tatkala mengungsi.
Yaitu pakaian, air minum, sabun, pasta gigi, obat-obatan, dan bahan makanan
yang tahan lama.
6.
Mengetahui
dan dapat melakukan dengan cepat hal-hal penting sebelum meninggalkan rumah
untuk mengungsi. Misalnya memutus aliran listrik (menurunkan sekering listrik).
7.
Menyiapkan
sarana transportasi air yang diperlukan ketika terjadi banjir.
8.
Membantu
pengamanan dan keberhasilan usaha-usaha pengungsian dan penyelamatan
(evakuasi), sehingga memperkecil jumlah korban dan kerugian yang timbul.
G. Mitigasi Banjir dengan Bantuan
Masyarakat
Menurut UNESCO (2008), banjir tidak dapat sepenuhnya
dihindari, namun masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir dan
mengurangi dampaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti:
1.
Membersihkan
selokan, got dan sungai dari sampah dan pasir, sehingga dapat mengalirkan air
keluar dari daerah perumahan dengan maksimal.
2.
Membuat
sistem dan tempat pembuangan sampah yang efektif untuk mencegah dibuangnya
sampah ke sungai atau selokan.
3.
Menambahkan
katup pengaturan, drain, atau saluran by-pass untuk mengalirkan air keluar dari
perumahan. Memperkokoh bantaran sungai dengan menanam pohon dan semak belukar,
dan membuat bidang resapan di halaman rumah yang terhubung dengan saluran
drainase.
4.
Memindahkan
rumah, bangunan dan konstruksi lainnya dari dataran banjir sehingga daerah
tersebut dapat dimanfaatkan oleh sungai untuk mengalirkan air yang tidak dapat
ditampung dalam badan sungai saat hujan.
5.
Penghutanan
kembali daerah tangkapan hujan sehingga air hujan dapat diserap oleh pepohonan
dan semak belukar.
6.
Membuat
daerah hijau untuk menyerap air ke dalam tanah.
7.
Melakukan
koordinasi dengan wilayah-wilayah lain dalam merencanakan dan melaksanakan
tindakan-tindakan untuk menghindari banjir yang dapat juga berguna bagi
masyarakat di daerah lain.
Tindakan-tindakan pencegahan ini sebaiknya dimulai dan
dilaksanakan 2-3 bulan sebelum musim hujan. Permohonan untuk dukungan dapat
ditujukan kepada institusi pemerintahan seperti Departemen Pekerjaan Umum atau
Dinas Kebersihan untuk kegiatan-kegiatan tertentu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dapat digaris bawahi bahwa banjir adalah suatu keadaan
dimana sungai ataupun DAS sudah tidak sanggup untuk menahan debit air yang
terlalu besar akibat penambahan volume air secara singkat dan berlebihan
karena suatu sebab, bisa karena factor alam, maupun akibat ulah manusia yang
menyebabkan rusaknya elemen-elemen yang dapat menahan air tetap berada di dataran
tinggi dan tidak langsung mengaliri daerah yang lebih rendah.
Banjir yang terjadi di wilayah semarang disebabkan oleh tiga
factor, yaitu banjir akibat kiriman dari daerah lain, banjir local akibat hujan
yang mengguyur wilayah tertentu di wilayah semarang dan yang paling umum adalah
banjir rob.
Banjir yang terjadi di wilayah semarang maupun wilayah lain
memiliki dampak yang nyata bagi lingkungan dan masyarakatnya, mulai dari segi
social, ekonomi, pemerintahan, individu maupun kejiwaan.
Namun, setiap masalah pasti ada solusinya, seperti halnya
banjir di semarang, kuncinya adalah peran serta semua lembaga masyarakat, mulai
dari lembaga pemerintahan, lembaga kemasyarakatan, dan yang utama adalah
masing-masing individu harus sadar bahwa wilayah itu milik bersama dan untuk
bersama sehingga akan muncul sikap saling menjaga dan melestarikan alam
sekitarnya.
B. Saran
Dalam penanganan masalah-masalah terutama yang menyangkut
kelingkungan alam serta kehidupan manusia, perlu adanya kerjasama yang sangat
kuat pada masing-masing individu, masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada,
serta rasa saling menjaga dan memiliki yang akan membuat kita sadar akan berharganya
alam dan keseimbangannya
DAFTAR PUSTAKA
Arduino, G., Langenhorst, H., Siska, E. M., 2007,PetunjukPraktisPartisipasiMasyarakatdalamPenanggulanganBanjir,
UNESCO Office Jakarta.
Pramono SS. AnalisisPenyelesaianMasalahBanjir di Kota Semarang
denganPendekatanSistemPeringkatKomunitas (SPK).JurnalDesaindanKonstruksi
Vol. 1. No.2. Desember 2002:108-115.
Saputro, S., 1998,TelaahGeologi Thread Banjirdan Rob di
KawasanPantai Semarang, Semarang,http://ik-ijms.com/category/year-1998/volume-iii-10/
Yusuf Y.2005. AnatomiBanjir Kota PantaiPerspektifGeografi. PenerbitPustakaCakra
Surakarta.






0 komentar:
Posting Komentar